Makna Tekstual Tari (proses mengamati semua unsur atau elemen dalam tari yang tampak oleh indera)
TUJUAN PEMBELAJARAN
Berdasarkan capaian pembelajaran fase E, tujuan pembelajaran unit 2 adalah Peserta didik mampu menafsirkan makna tari dengan menggunakan penafsiran berdasarkan pengalaman diri dan informasi dari berbagai sumber.
-----------------------------------------------
(Para siswa bisa mencari referensi pembelajaran dari berbagai sumber literasi, salahsatunya di rangkuman blog ini)
-----------------------------------------------
Makna Tari Berdasarkan Kajian Tekstual
Tari dapat dikaji secara luas, artinya dalam melihat seni tari tidak hanya sekedar melihat gerak tubuh dan mendengarkan alunan musik saja, melainkan tari perlu dilihat secara lebih utuh dan lengkap berdasarkan pendekatan tekstual dan kontekstual. Terdapat beberapa tahapan yang dapat dilakukan untuk mengetahui makna tari berdasarkan kajian tekstual. Tahapan tersebut adalah proses mengamati semua unsur atau elemen dalam tari yang tampak oleh indera, tidak hanya elemen pokok berupa penari ataupun gerak tari, tetapi dengan mengamati juga seluruh elemen pendukungnya. Tahapan yang dapat dilakukan untuk mengetahui makna tari berdasarkan kajian tekstual :
Tahapan tersebut adalah proses mengamati semua unsur/elemen dalam tari yang tampak oleh indra, tidak hanya elemen pokok berupa penari/ gerak tari tetapi dengan mengamati juga seluruh elemen pendukungnya.
Pengamatan Pertama
1. Mengamati Penari sebagai pelaku pertunjukan makna tari berdasarkan kajian tekstual, dapat diamanati berdasarkan
A. Jenis Kelamin
Dalam kepercayaan masyarakat suatu daerah, terdapat beberapa pertunjukan tari yang tidak lazim dibawakan oleh jenis kelamin tertentu. Contoh tari yang pada pertunjukannya terikat dengan gender adalah tari Bedhaya Ketawang, yaitu tari klasik yang ditampilkan dalam lingkungan kasunanan Surakarta yang hanya boleh dilakukan oleh perempuan. Hal itu karena berkaitan dengan makna perempuan sebagai penyeimbang dan sumber dalam kehidupan.
B. Makna tari berdasarkan kajian tektual juga bisa diamati berdasarkan Usia
Kategorisasi penari yang menggambarkan makna berdasarkan kategorisasi usia, contohnya tari Tarawangsa dalam upacara Ngalaksa di desa Rancakalong, Sumedang. Penari yang berumur lanjut atau menopause melambangkan kematangan diri dan orang yang paling dekat menuju Sang Maha Pencipta, sehingga dalam tarian ini tidak dapat digantikan oleh remaja karena kesakralan tariannya tidak akan tercapai.
C. Makna tari berdasarkan kajian tektual juga bisa diamati berdasarkan jumlah penari dalam pertunjukan atau ciri-ciri dan kriteria khusus fisik penari
makna tari terikat pada kategori berdasarkan jumlah penari. Secara tekstual bilangan ganjil genap memiliki makna tersendiri yang erat kaitan dengan kepercayaan masyarakat. Angka 1, 3, 5, 7 dan 9 biasanya terdapat pada tari-tarian upacara yang bersifat sakral.
2. Mengamati Gerak
Gerak
terdiri dari ruang, tenaga dan waktu. Seperti materi yang telah dijelaskan pada unit 1, desain gerak, tempo dan
tenaga memiliki kaitan dengan makna tari. Tari dengan gerak, tempo lambat dan ruang yang sempit memiliki makna yang umumnya menceritakan
tentang kesedihan, sedangkan gerak dengan tempo cepat, tenaga yang kuat, serta ruang yang lebar mengandung
makna kebebasan. Mengamati elemen
gerak tari merupakan bagian paling utama dalam menganalisis makna tari berdasarkan kajian tekstual,
karena melalui gerak kita dapat melihat rangkaian isi cerita yang disampaikan,
baik melalui gerak murni maupun maknawi.
3.
Mengamati Musik
Musik
iringan tari dalam kajian tekstual adalah memahami makna music iringan tari dari aspek
tempo, volume dan dinamika untuk membantu penciptaan suasana. Misalnya tempo yang lambat dengan volume kecil atau samar melambangkan suasana
yang khusuk dan hening, sedangkan music dengan tempo cepat dapat menggambarkan kecerian.
4. Mengamati Tata Rias, Busana dan Properti
Tata rias,
busana, properti maupun aksesori merupakan elemen yang dapat dianalisis berdasarkan
bentuk, warna, dan material atau bahan bakunya. Contoh untuk melambangkan karakter jahat seperti buto (raksasa), bentuk pakaiannya bisa dibuat
sedemikian rupa dengan desain celana pendek hitam, badan diberi riasan cat/body painting dengan warna hijau, tata
rias wajah dapat menggunakan tata rias fantasy, aksesori kepala berupa rambut palsu yang materialnya kasar
sehingga rambut terkesan kusut. Desain rias, busana dan properti seperti ini
ingin menunjukan karakter tokoh Buto (raksasa) yang seram. Contoh lainnya, desain baju dengan gaun selendang yang
menjuntai, kain dengan corak khusus dihiasi taburan prada atau payet, dan
tata rias korektif, mengandung makna tekstual bahwa koreografer ingin
menampilkan tokoh putri yang memiliki karakter lemah lembut.
5.
Mengamati Tata Pentas dan Penonton
Tata pentas
tidak selalu berarti panggung atau stage. Tempat pertunjukan dapat berupa tempat alaminya sesuai dengan fungsi tari nya.
Pentas dengan keadaan panggung sesuai dengan kejadian alaminya, biasanya
dilaksanakan untuk pementasan jenis koreografi lingkungan. Pada tarian
tradisional yang erat kaitannya dengan upacara sedekah laut biasanya dipertunjukkan
di pesisir pantai. Tata pentas biasanya
dilengkapi dengan setting maupun dekorasi. Setting adalah segala peralatan di atas pentas untuk mendukung konsep
tari.
Dekorasi adalah segala peralatan di atas pentas yang fungsinya untuk memperindah panggung. Posisi duduk penonton dan
keterlibatan penonton sebagai pelaku seni memiliki hubungan yang erat dengan makna tari yang ingin
ditampilkan. Pada tari-tari ritual, posisi penonton tidak ada batas dengan
penari, penonton terkadang menjadi bagian dari pelaku upacara. Contoh lain pada tari-tari
yang dipentaskan di Keraton. Letak tempat duduk penonton lebih tinggi dari pentas dan terdapat batas jarak
dengan pelaku seni, letak penonton tersebut memiliki makna bahwa tarian
tersebut dipertunjukan untuk menghormati orang yang kedudukannya lebih
tinggi, misalnya sosok tetua adat, pejabat atau raja.
(SUMBER: Buku Seni tari (MGMP Seni Budaya))
-youtube